Kloter Terakhir

Posted: November 24, 2008 in Inspiration

Jum’at, yang bisa dibilang hari penentu awal penelitian ini. Beberapa jam lagi, proposal ini harus dikumpulkan. Alhamdulillah, kuliah pun tidak terjadwal jum’at ini.

Kamar ini ibarat dunia perkantoran.

Ternyata, tidak hanya kamar ini. Sobat-sobat saya pun, sedang menggerakkan jari mereka di hadapan layar berukuran sekitar 12 – 15 inci. Ya, untuk mengerjakan amanah sebagai penuntut ilmu di kampus ini.

Saya pun harus konsen pada ketepatan setiap kata dan kalimat yang akan ditempatkan pada proposal ini. Sedemikian sehingga, saya pun selesai mengetik proposal ini. Heran, melihat seseorang di sebelah kiri saya. Dia semangat menatap laptop. Dia ditemani berbagai buku rujukan proposalnya. Buku-buku yang cukup tebal menjadi hiburan pelengkap proposalnya.

Kembali pada laptop yang selalu menemani. Saya harus konsen kembali untuk meneliti kembali catatan yang diberikan dua pengajar di kampus ini. Catatan pertama memang luar biasa. Hingga isi proposal pun dilengkapi dengan coretan pensil yang begitu banyak sekali…. Hal ini, membuat saya harus merubah alur pemikiran penelitian ini.

“Weyy… Ngeprint…. dong..!” Tanpa sadar, saya pun membalas “Sini nih…!” Tapi, printer ini kurang mendukung di saat saya benar-benar butuh layanan mesin yang berukuran lebih besar dari laptop ini.

Rehat dulu. Penuhi panggilan suci di hari jum’at siang.

Sedemkian sehingga. Setelah mencetak proposal, saya berangkat menemui satu pengajar yang ahli di bidangnya. Beliau sedang berbadan dua. Saya pun tak tega untuk meminta saran beliau mengenai proposal ini.

Tapi, kapan lagi harus tahu koreksi proposal ini sebelum dikumpulkan pukul empat sore.

Alhamdulillah, ternyata koreksi beliau sangat penting. Identifikasi masalah harus dirubah total. Harus diperbaiki. Dua jam lagi batas pengumpulan. Segera lakukan perbaikan dengan cepat dan tepat adalah nasehat hati kepada diri ini.

Baru tiba di kamar. Ngeprint dong …! suaranya membuat saya harus segera buka laptop dan siapkan printer.

Melihat sobat yang ingin mencetak, saya senang dengan raut muka yang begitu menampakkan kesenangan hati. Namun, dia tak lepas dari editor seorang abang yang dengan rela meneliti proposalnya.

3 buah jam yang ada di kamar ini mengarah pada angka yang sebanding dengan ½  jam sebelum proposal ini dikumpulkan.

Teriakan, “siapa yang belum ngeprint?”, “ngeprint dong”, “minta kertas dong”, “ngeprint di sini nih”, “weyy.. ½ jam lagi”, “printernya ngadat nih”. Terdengar berkali-kali memenuhi udara yang ada di lorong gedung ini.

Alhamdulillah. Suara yang membuat hati senang dan tenang.

Tinggal dikumpulkan. “Siapa lagi yang belum?” “kita doang!” “Berarti kita kloter terakhir dong …!”

Ya, inisial NG, IPT, DHK, GTM n NKG adalah penumpang kloter terakhir untuk berangkat menuju tempat pengumpulan proposal.

Tiba di sana, ternyata Ayah berinisial ANS sedang menunggu pengumpulan proposal sambil makan siang. Saya pun menyimpan proposal dan mulai menggerakan tangan  untuk menodai dengan indah lembaran tanda tangan pengumpulan proposal TA.

Saya pun keluar gedung dan terdengar “kita rayakan yu”, ”makan di kantik”, “wah, punya 2ribu”, “udah, kalian tinggal makan, biar saya ngutang dulu”, “bener nih”, “bener”, “ayo kita kemon”.

@jantjeu

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s